Apa itu Analgetika atau Obat Penghilang Nyeri


Apa itu Analgetika atau obat penghilang nyeri ?

Merupakan  zat – zat yang mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran

Sebelum mengetahui analgetika kita harus memahami, apa si itu nyeri?
  • Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan yang berkaitan dengan kerusakkan jaringan. Rasa nyeri bersifat individual  dan ambang toleransi nyeri tiap-tiap pribadi berbeda-beda bagi tiap-tiap orang. Dalam banyak kasus rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi melindungi tubuh.
  • Nyeri merupakan isyarat bahaya tentang adanya gangguan di jaringan, seperti peradangan (rematik,encok), infeksi mikroorganisme, rangsangan mekanis, kimia dan fisis (kalor,listrik). Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis (kalor,listrik) dapat menimbulkan kerusakkan pada jaringan, rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut dengan mediator nyeri.
Nyeri  dapat dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya :
  • Nyeri ringan : sakit gigi,kepala,nyeri haid, keseleo,dll
  • Nyeri ringan yang menahun: rematik.
  • Nyeri yang hebat :nyeri organ dalam, kolik pada penyakit batu ginjal dan empedu.
  • Nyeri hebat yang menahun : nyeri kanker.
Mediator nyeri (autacoida) :

  • Histamin
  • Serotonin.
  • Leucotrien.
  • Bradikinin, berupa polipeptida yang terbentuk dari protein plasma.
  • Prostaglandin, terbentuk dari asam arachidonat.
  • Zat-zat ini meningkatkan kepekaan ujung syaraf sensoris bagi rangsangan nyeri.
Berdasarkan kerja farmakologis, analgetika dibagi dua kelompok :
  • Analgetik perifer (Non – narkotika).
  • Terdiri atas obat –obatan yang tidak bersifat narkotika daan tidak bekerja di SSP.
  • Analgetik narkotika.
  • Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri yang hebat, misalnya pada penanganan kanker dan operasi.
Penanganan Rasa Nyeri berdasarkan proses terjadinya :
  • Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer dengan analgetika perifer.
  • Merintangi penyaluran ransangan di saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anastesi lokal.
  • Blokade pusat nyeri di SSP dengan analgetika sentral (narkotika) atau dengan anastesi umum.

Keterampilan Pemeriksaan Fisik

Cara pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggotagerak Setelah pemeriksaan organ utama diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, beberapa tes khusus mungkin diperlukan seperti test neurologi.
  • Dengan petunjuk yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik, perawat dapat menyusun diagnosis keperawatan,yakni daftar masalah kep yang mungkin disebabkan dari gejala yg timbul pada pem fisik tersebut. Beberapa tes akan dilakukan untuk meyakinkan penyebab tersebut.
  • Sebuah pemeriksaan yang lengkap akan terdiri diri penilaian kondisi pasien secara umum dan sistem organ yang spesifik. Dalam prakteknya, tanda vital atau pemeriksaan suhu, denyut dan tekanandarah selalu dilakukan pertama kali.

Palpasi
Palpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba. Tangan dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif digunakan untuk mengumpulkan data terhadap bagian-bagian tubuh yang mengalami kelainan., misalnya tentang : temperatur, turgor, bentuk, kelembaban, vibrasi, ukuran, adanya tumor, oedema, krepitasi (patah/retak tulang), dll.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan selama palpasi

  • Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai.
  • Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering
  • Kuku jari perawat harus dipotong pendek.
  • Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir.
Perkusi
  • Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu untuk membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri kanan) dengan tujuan menghasilkan suara è Perawat menggunakan kedua tangannya sebagai alat untuk menghasilkan suara.
  • Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan mengetuk bagian tubuh menggunakan tangan atau alat bantu seperti reflek hammer untuk mengetahui reflek seseorang (dibicarakan khusus). Juga dilakukan pemeriksaan lain yang berkaitan dengan kesehatan fisik klien. Misalnya : kembung, batas-batas jantung, batas hepar-paru (mengetahui pengembangan paru), dll.
Tujuan perkusi
  • Mengidentifikasi lokasi
  • Mengidentifikasi ukuran
  • Mengidentifikasi bentuk
  • Mengidentifikasi konsistensi jaringan
  • Menemukan adanya cairan di rongga tubuh.
Prinsip kerja perkusi
  • Perkusi melibatkan pengetukan satu objek thd objek lain o.k perkusi menghasilkan vibrasi dan gel bunyi
  • Ketika pemeriksa mengetuk permukaan tubuh dg jari, vibrasi ditransmisikan melalui jaringan tubuh
  • Gel bunyi terdengar sbg nada perkusi yg munculdari vibrasi 4-6 cm didalam jaringan tubuh
Metode Perkusi
  • Perkusi lansung
Melibatkan pengetukan permukaan tubuh secara lansung dg satu atau dua jari
  • Perkusi tidak lansung
Menempatkan jari tengah tangan non dominan (disebut pleksimeter) di atas permukaan tubuh, dg telapak tangan dan jari-jari tgn yg lain tdk berada dipermukaan kulit, ujung jari tengah tgn dominan (disebut pleksor)       mengetuk bgn dasar sendi distal dari pleksimeter
Suara-suara yang dijumpai pada perkusi Antara lain adalah :
  • Sonor : suara perkusi jaringan yang normal.
  • Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di daerah paru-paru pada pneumonia.
  • Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi daerah jantung, perkusi daerah hepar.
  • Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong, misalnya daerah caverna paru, pada klien asthma kronik.
  • Flatness : ketukan pada otot

Auskultasi
Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.

Prinsip Auskultasi
  • Pelajari bunyi normal terlebih dahulu
  • Ketajaman pendengaran yg baik
  • Stateskop yg baik dan pengetahuan penggunaannya dg tepat
  • Lingkungan yang tenang
  • Dengarkan bunyi dan karakteristiknya
Beberapa karakteristik bunyi :
  • Frekuensi : jml siklus gel bunyi per detik yg dihasilkan benda bergetar. Semakin tinggi frek. Semakin tinggi nada bunyi.
  • Kekerasan : amplitudo gel bunyi. Bunyi yg terauskultasi digambarkan sebagai keras atau pelan
  • Kualitas : bunyi dg frek dan kekerasan yg sama dari sumber berbeda. Istilah seperti tiupan atau gemuruh menggambarkan kualitas bunyi
  • Durasi : lamanya waktu buni berlansung, pendek, sedang, atau panjang
Suara tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas Antara lain adalah :
  • Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus, sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia, TBC.
  • Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun saat ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien batuk. Misalnya pada edema paru.
  • Wheezing : bunyi yang terdengar “ngiii….k”. bisa dijumpai pada fase inspirasi maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut, asma.
  • Pleura Friction Rub ; bunyi yang terdengar “kering” seperti suara gosokan amplas pada kayu. Misalnya pada klien dengan peradangan pleura.

Olfaksi
Adalah pemeriksaan fisik melalui indra penciuman 
Prinsip : mengenali sifat dan sumber bau badan
Tujuan : mendeteksi abnormalitas yg tidak dapat dikenali dg cara lain

Materi diatas menjelaskan tentang Keterampilan Pemeriksaan Fisik.

Tujuan Pemeriksaan Fisik

Apa Definisi dari Pemeriksaan fisik
    Tujuan Pemeriksaan Fisik
  • Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan, dll) yang bersangkutan.
  • Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik klien untuk menentukan masalah kesehatan klien.
  • Merupakan bagian dari pengkajian dalam proses keperawatan
  • Pengumpulan riwayat kes
  • Membuat dx dan rencana askep
  • Penatalaksanaan masalah klien
  • Mengevaluasi askep
Pengumpulan riwayat kesehatan
  • Tujuan utama interaksi perawat-klien è menemukan apa yang menjadi pusat kekhawatiran klien dan untuk membantu menemukan solusi.
  • Mengumpulkan data dasar tentang  kesehatan klien.
  • Menambah, mengkonfirmasi atau menyangkal data yg diperoleh dalam riwayat keperawatan
Pedoman Dasar Bagi Pewawancara
  • Mengurangi ansietas
  • Mendorong berkomunikas
  • Mempertahankan fleksibilitas
  • Menunjukkan empati
  • Kesadaran pribadi
  • Komunikasi nonverbal
  • Tingkat pemahaman
  • Pertimbangan kultural
  • Penyimpulan wawancara
Membuat dx dan rencana askep
  • Riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik yg lengkap dan akurat dasar utk membuat dx kep.
  • Berdasarkan analisa kritis dari perawat thd riwayat kes dan pem fisik awal (data dasar : normal dan abnormal).
  • Hasil Pemeriksaan fisik membantu menentukan etiologi dx, shg perwt bisa memilih jenis intervensi yg tepat utk rencana askep.
Penatalaksanaan masalah klien
Selama intervensi keperawatan dilakukan untuk mangatasi masalah klien, perawat terus-menerus mengkaji fisik klien sehingga bisa menyesuaikan tindakan yang dilakukan, dan merevisi rencana askep serta membuat keputusan baru è Perlu perawat mempunyai keteranga  pengkajian fisik/pemeriksaan fisik.

Mengevaluasi askep
  • Pemeriksaan fisik yg dilakukan perawt memberikan ukuran yg akurat, terperinci dan objektif
  • Menentukan tercapai tidaknya askep yg direncanakan
  • Menentukan keefektifan askep tsb.
Sensitivitas Budaya  
  • Pada pelaksanaan pem fisik perhatikan nilai, budaya yg dianut individu.
  • Menghormati keunikan klien dan memberikan askep berkualitas tinggi.

Integrasi pengkajian fisik dg askep

  • Pemeriksaan fisik lengkap atau parsial terintegrasi dalam askep rutin.
  • Pengkajian fisik menjadi prilaku otomatis ketika klien dan perawat berinteraksi.
  • Penting sekali keterangan pengkjian  fisik oleh perawat untuk mendapatkan pengkjian yg lebih komprehensif dan relevan
Materi diatas menjelaskan tentang Tujuan Pemeriksaan Fisik.

Konsep Dasar Mengenai Konsep Diri pada Lansia

Apa pengertian dari Konsep Diri ?
Konsep Dasar Mengenai Konsep Diri pada Lansia
            Menurtut William D Brooks bahwa pengertian konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Centi mengemukakan konsep diri (self-concept), adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri dsan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan.

            Istilah konsep diri diartikan sebagai gambaran seseorang tentang diri sendiri, baik yang bersifat fisik, social maupun psikologis yang diperoleh melalui interaksinya dengan orang lain.

Apa Saja Komponen Konsep Diri ?
Menurut Hurlock (1974) disebutkan tiga komponen utama dari konsep diri, yaitu :
1.      Komponen perceptual (physical self concept)
Merupakan image seseorang mengenai penampilan fisiknya serta kesan yang ditampilkan pada orang lain.
2.      Komponen konseptual (psychological self concept)
Konsepsi orang mengenaikarakteristik khusus yang dimiliki, baik kemampuan maupun ketidakmampuanya, latar belakang dan masa depannya. Komponen ini terdiri dari beberapa kualitas penyesuaian diri, seperti kejujuran, percaya diri, kemadirian, pendirian yang teguh, dan kebalikan dari sifat-sifat tersebut.
3.      Komponen sikap
Perasaan seseorang tentang diri sendiri, sikap terhadap statusnya sekarang dan masa depan, sikap terhadap harga diri dan pandangan diri yang dimilikinya.
Hurlock juga membagi konsep diri menjadi dua, yaitu :
1.      Konsep diri yang sebenarnya, konsep diri seseorang mengenai siapa dan apa dirinya. Konsep diri ini ialah bayangan cermin yang sebagian besar ditentukan oleh peran dan hubungannya dengan orang lain serta apa yang menjadi reaksi orang lain terhadap dirinya.
2.      Aku ideal, gambaran seseorang mengenai kepribadian dan penampilan yang didambakannya.
Setiap macam konsep diri ini terdiri dari citra fisik dan psikologis. Citra fisik biasanya terbentuk dari penampilan fisik, daya tarik dan kesasuaian dengan jenis kelaminnya dan pentingnya berbagai bagian tubuh untuk perilaku dan harga dirinya dimata orang lain. Psikologis didasarkan pada pikiran, emosi, dan perasaan yang mempengaruhi pola kehidupan seseorang.
Dimensi Konsep Diri (Caulhoun,1990)
1.      Pengetahuan tentang diri sendiri
Menyangkut hal-hal yang bersifat dasar, seperti usia, jenis kelamin, kebangsaan, latar belakang etnis, profesi, dan sebagainya. Factor dasar ini akan menentukan seseorang dalam kelompok social tertentu. Selain itu setiap orang juga akan mengidentifikasikan dengan kelompok lain yang dapat memberikan sejumlah informasi lain yang akan masuk ke dalam mental orang tersebut.
2.      Harapan terhadap diri sendiri
Setiap orang memiliki harapan pada prinsipnya, terhadap dirinya sendiri. Hal ini merupakan diri ideal yang pada tiap individunya berbeda-beda. Seseorang mungkin melihat masa depan dirinya  akan bagus apabila ia menjadi peneliti, sedangkan orang lain merasa masa depan mereka akan bagus jika menjadi dokter. Apapun harapan dan tujuan seseorang akan membangkitkan kekuatan yang mendorongnya menuju masa depan dan memandu kegiatannya seumur hidup.
3.      Evalusi diri
Evalusi terhadap diri sendiri ini disebut harga diri, yang akan menetukan seberapa jauh seseorang akan menyukai dirinya. Semakin jauh perbedaan antara gambaran tentang siapa dirinya dengan gambaran seseorang tentang seharusnya ia menjadi, maka maka akan meyebabkan harga diri rendah. Apa yang dikerjakan dan tujuannya maka ia akan memiliki harga diri yang tinggi.

Fakrot - faktor  yang Mempengaruhi Konsep Diri
            Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa factor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Factor itu terdiri dari
1.      Teori Perkembangan
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pengalaman budaya, dan hubungan interpersonal, kemampuan pda area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.
2.      Orang yang terpenting atau terdekat (significant other)
Dimana konsep ini dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain, yaitu dengan cara pandang diri merupakan interpretasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak  sangat  dipengaruhi orang yang sangat dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat  atau pengaruh orang penting sepanjangsiklus hidup, pengaruh budaya, dan sosialisasi.
3.      Persepsi diri sendiri (self perception)
Persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pegalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih dari kemapuan interpersonal, intelektual, dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negative dapat dilihat dari hubungan individu dan social yang terganggu.
Konsep Diri Positif dan Negatif
1.      Konsep diri  positif
Konsep diri positif ditandai degan lima hal :
a.       Kemampuan mengatasi masalah
b.      Merasa setara dengan orang lain
c.       Menerima pujian tanpa rasa mali
d.      Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak selutuhnya disetujui masyarakat.
e.       Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup megungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
Karakteristik lain pada seseorang yang memiliki konsep diri positif menurut Hamacheck ialah meyakini betul nilai-nilai dan prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat,  tapi ia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsipitu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukan bahwa ia salah. Kemudian mampu bertindak berdasarkan penelitian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlbihan, menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya. Serta peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan social yang telah diterima dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bias bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain,tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan apapun, merasa sama dengan orang lain walaupun memilki perbedaan dalam melakukan hal itu, sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, cenderung menolak uasaha orang lain untuk mendominasinya, sanggup mengaku pada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dan  mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi ungakapan diri yang kreatif, pekerjaan, permainan, persahabatan, dan sekadar mengisi waktu.
2.      Konsep diri negative
Menurut Coulhoun (1990), ada dua jenis konsep negative.  Pertama, pandangan seseorang tentang dirinya benar-benar tidak teratur atau tidak memiliki kestabilan dan keutuhan diri ia benar-benar tidak tahu siapa dirinya, apa kekuatan dan kelemahannya, atau apa yang dihargai dalam hidupnya. Kondisi ini umumnya terjadi pada remaja dimana konsep diri mereka kerap kali menjadi tidak teratur untuk sementara waktu dan hal ini terjadi pada masa transisi dari peran anak, ke peran dewasa. Tapi pada orang dewasa, hal ini merupakan tanda ketidakmampuan menyesuaikan.
Tipe  kedua, merupakan kebalikan dari yang pertama. Konsep diri ini terlalu stabil da teratur, dengan kata lain kaku. Bias jadi dikarenakan didikan orang tua yang terlalu keras, sehingga induvidu tersebut menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari aturan yang menurutnya merupakan cara hidup yang tepat.
            Menurut Brooks dan Emmert, cirri-ciri orang yang memiliki konsep diri negative ialah :
a.       Peka terhadap kirtik
b.      Responsive sekali terhadap pujian
c.       Mempunyai sikap hiperkritis
d.      Cenderung merasa tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan, dan
e.       Bersikap pesimis terhadap kompetensi

Perkembangan Konsep Diri dan Perilaku
            Tiga alasan pentingnya konsep diri dalam menentukan perilaku yang di ungkapkan Clara R Pudjijogyanti :
1.      Konsep diri mempunyai peranan dalam mempertahankan keseluruhan batin,. Apabila timbul perasaan, pikiran, dan persepsi yang tidak seimbang atau saling bertentangan satu sama lain, maka akan menjadi situasi  psikolgis yang tidak menyenangkan dan menghilangkan ketidakselarasan tersebut, individu akan mengubah perilakunya.
2.      Seluruh sikap, pandangan individu terhadap dirinya akan mempengaruhi individu dalam menafsirkan pengalamannya. Sebuah kejadian akan ditafsirkan berbeda antar individu yang satu dengan yang lainnya karena masing-masing individu mempunyai sikap dan pandangan yang berbedaterhadap dirinya.
3.      Konsep diri menentukan pengharapan individu. Pengharapan ini merupakan inti dari konsep diri. Sikap dan pandangan negative terhadap kemampuan diri akan menyebabkan individu tidak mempunyai motivasi untuk mencapai prestasi yang gemilang.
Perkembangan Konsep Diri pada Lansia
            Perkembangan konsep diri merupakan proses yang terjadi disepanjang hidup setiap tahapan perkembangna mempunyai aktifitas spesifik yang membantu klien dalam mengembangkan konsep diri positif. Pada lansia terjadi perubahan fisik yang tampak sebagai penurunan terhadap struktur dan fungsi. Terjadinya penurunan kekuatab otot dan tonus otot. Kehilangan tonus kulit serta keriput dan penampilan dapat mempengaruhi harga diri dan menyebabkan lansia merasa kurang baik secara penampilan.
            Osteoporosis, merupakan penuruna kepadatan massa tulang yang dapat mengakibatkan fraktur. Penurunan ketajaman pandanagn adalah factor yang berpengaruh bagi lansia saat berinteraksi dengan lingkungannya. Kehilangan pendengaran dapat menyebabkan perubahan kepribadian karena lansia terkadang tidak menyadari semua yang terjadi ataupun yang diucapkan. Curiga, mudah tersinggung, tidak sabar, atau menarik diri, dapat terjadi dikarenakan kerusakan pendenganran tesebut. Lansia sering menganggap alat bantu dengan sebagai ancaman terhadap citra tubuh. Penyesuaian terhadap penggunaan alat bantu dengar sulit terjadi jika motivasinya rendah dan alat bantu dengar dapat ditolak.

            Aktivitas seksual mungkin mungkin menghilang sejalan denagn pertambahan usia. Seringkali kali lansia tidak melakukan aktifitas tersebut dikarenakan tidak memiliki pasangan. Perubahan dalam citra tubuh dapat menganggu aktifitas seksual karena penolakan yang diantisipasi karena ketakutan tentang ketidakmampuan untuk melakukannya, meskipun sebagian besar riset menunjukan bahwa tidak ada masalah fisik. Konsep diri selama masa lansia dipengaruhi pengalaman, yaitu waktu dimana orang bercermin pada hidup mereka, meninjau kembali keberhasilan serta kekecewaan yang pernah dirasakan. Dengan demikian menciptakan rasa kesatuan dari makna mengenai diri mereka. Konsep diri juga mempengaruhi status kesehatan yang dirasakan oleh orang tersebut.

Materi diatas menjelaskan tentang Konsep Dasar Mengenai Konsep Diri pada Lansia.

Cara Penanganan Infeksi Luka Perineal

Apa itu  Infeksi Luka Perineal?
Infeksi Luka Perineal  dapat di artikan Masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh melalui robekan dan serambi liang senggama waktu bersalin, sehingga luka terasa nyeri dan mengeluarkan nanah.
Cara Penanganan Infeksi Luka Perineal

Apa Penyebab dari Infeksi Luka Perineal
Disebabkan oleh keadaan yang kurang bersih dan tindakan pencegahan infeksi yang kurang baik.

Apa saja tanda-tanda atau gejala-gejala yang disebabkan oleh Infeksi Luka Perineal
1.      Nyeri pada luka.
2.      Luka pada perineal yang mengeras.
3.      Demam.
4.      Keluar pus / cairan.
5.      Kemerahan.
6.      berbau busuk.

Apa yang harus dilakukan bila mengalami Infeksi Luka Perineal?
  • Bila didapati pus dan cairan pada luka, buka jahitan dan lakukan pengeluaran serta kopmres antiseptic.
  • Daerah jahitan yang terinfeksi dihilangkan dan lakukan debridemen.
  • Bila infeksi sedikit tidak perlu antibiotika.
  • Bila infeksi relative superficial, berikan Ampisilin 500mg per oral selama 6 jam dan Metronidazol 500 mg per oral 3 kali/hari selaa 5 hari.
  • Bila infeksi dalam dan melibatkan otot dan menyebabkan nekrosis, beri Pennisilin G 2 juta U IV setiap 4 jam ( atau Ampisilin inj 1 g 4x/hari ) ditambah dengan Gentamisin 5 mg/kg berat badan per hari IV sekali ditambah dengan Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam, sampai bebas panas selama 24 jam. Bila ada jaringan nekrotik harus dibuang, lakukan jahitan sekunder 2 – 4 minggu setelah infeksi membaik.
  • Berikan nasihat kebersihan dan pemakaian pembalut yang bersih dan sering diganti.
Materi diatas menjelaskan tentang Cara Penanganan Infeksi Luka Perineal.